I  
This is an example of a HTML caption with a link.
Home | Masyarakat

Seorang Ibu Digugat Dua Anak Kandungnya

Rabu, 20 September 2017 - 05:06:57 WIB
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Masyarakat - Dibaca: 37 kali

Kediri,m9nTera=Sungguh tega. Kata itu sepertinya tepat untuk menggambarkan peristiwa yang sedang dialami oleh seorang ibu tua di Kabupaten Kediri. Dia digugat oleh dua anak kandungnya sendiri, hanya gara-gara persoalan warisan.

Nasib tragis ini dialami Sumiati (70) warga Desa Ngablak, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri. Janda tua ini harus berhadapan dengan dua orang anaknya Emi Asih, anak sulung dan Lalan Suwanto, anak keempatnya di muka majelis Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri, Selasa (19/9/2017).

"Hari ini sidang ke 12 kali. Agenda sidang pemeriksaan saksi-saksi. Saksi yang dihadirkan adalah anak bungsu tergugat yaitu Enik Murtini. Majelis hakim memeriksa saksi berkaitan dengan duduk perkara gugatan perdata yang dilayangkan oleh penggugat," ucap Priyo, kuasa hukum penggugat.

Dijelaskan oleh pengacara asal Kabupaten Jombang ini, kliennya Emi Asih dan Lalan Suwanto terpaksa memperkarakan ibu kandungnya sendiri karena tidak mendapatkan hak waris. Padahal almarhum ayahnya telah menulis surat wasiat sebelum meninggal dunia agar membagi harta waris berupa lahan dan bangunan rumah untuk kelima orang anaknya dan istrinya.

Peninggalan sang ayah telah beralih tangan kepada orang lain. Peralihan hak tersebut baru diketahui setelah Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri melakukan eksekusi. Sebab, lahan seluas 1.300 meter dan diatasnya berdiri sebuah rumah itu dijadikan jaminan hutang oleh tergugat. Tetapi, dalam perjalannya tergugat tidak sanggup melunasi.

Enik Murtini, anak bungsu tergugat turut serta dalam proses pengajuan hutang tersebut. Oleh karena itu, ia dihadirkan dalam persidangan untuk dimintai keterangan. Seuasi diperiksa, Anik mengakui kesalahannya. Dia juga meminta maaf kepada kedua kakaknya.

"Dengan sepenuh hati kami mengakui kesalahan. Kami dan ibu, lalu kakak Pujiono meminta maaf. Kita benar-benar salah," ucap Enik. Dia tampak sangat bersedih. Dalam penyampaian maaf tersebut, matanya sembab, seolah hendak menangis tetapi malu.

Enik merasa paling bersalah dari peristiwa yang dialami ibu kandungnya. Sebab, dialah yang merasa memiliki andil besar mengajukan pinjaman dengan agunan sertifikat rumah peninggalan orang tuanya. Dia tidak menyangka, persoalannya menjadi serunyam ini, hingga menyakiti saudaranya sendiri.

Enik bercerita, awalnya ia ingin memulai usaha budidaya ayam petelor. Tetapi dia tidak memiliki modal. Akhirnya Enik merayu ibunya agar meminjam uang. Lalu, mereka bertemu dengan Bambang Hartono, warga Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri. Dia kemudian menjaminkan sertifikat tanah warisan sebagai jaminan hutan kepada Bambang Hartono.

"Menurut pak Bambang sertifikat tersebut dijaminkan ke bank. Akhirnya cair uang pinjaman sebesar Rp 120 juta. Dari jumlah itu, Rp 70 juta diberikan kepada saya, sedangkan sisanya Rp 50 juta dipakai pak Bambang. Uang itu kemudian saya pakai modal usaha," beber Enik.

Enik meminjam uang melalui bantuan Bambang dengan alasan saat itu usahanya baru saja dirintis. Tentunya, bank tidak akan memberikan pinjaman. Berbeda dengan Bambang. Terlebih, Enik beranggapan hanya berurusan secara pribadi dengan Bambang dan tidak berkaitan dengan perbankan.

Dalam proses pengajuan pinjaman ini, Enik dan ibunya tidak melibatkan penggugat. Sebab, keduanya berada di luar Kediri. Sementara dua saudaranya yang di Kediri hanya dimintai tanda tangan sebagai bukti kesediaanya.

"Saya sedang buka usaha ayam petelur. Tetapi dalam perjalanan kami, usaha kami mengalami kebangkrutan. Kami tidak bisa mengangsur. Akhirnya rumah dieksekusi oleh bank dan dilelang. Sampai akhirnya jatuh kepada pemenang lelang. Sedangkan kakak baru tahu ketika pengadilan hendak mengeksekusi," urainya.

Menurut Priyo, jual beli lahan dan bangunan tersebut cacat hukum. Pasalnya, penggugat tidak memberikan tanda tangannya. Padahal lahan dan bangunan tersebut adalah hak waris peninggalan almarhum orang tuanya. Kedua penggugat memiliki hak yang sama dengan anak-anak lainnya termasuk ibunya.sumber : beritajatim.com