I  
This is an example of a HTML caption with a link.
Home | Hukum & Kriminal

Makam Korban Pembunuhan Mujianto di Kediri Dibongkar

Jumat, 16 Maret 2012 - 15:59:16 WIB
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Hukum & Kriminal - Dibaca: 2571 kali

Kediri,m8nTera=Makam Wiji Subekti alias Mbah Bolot (62) satu dari lima korban pembunuhan berantai dengan motiv asmara sesama jenis oleh tersangka Mujianto (24), di Tempat Makam Umum (TPU) Gang IV, Kelurahan Mojoroto, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Kamis (15/3) sekitar pukul 08.30 WIB dibongkar tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jawa Timur. Selanjutnya, sample tubuh pria yang sebelumnya tinggal di Gang VI, kelurahan setempat itu dibawa ke Surabaya untuk dilakukan penelitian.

Pembongkaran dilakukan selama kurang lebih 2 jam. Tim forensik yang melakukan pembongkaran dipimpin langsung oleh dokter kesehatan AKBP Adika dan melibatkan tim gabungan dari Rumah Sakit Bhayangkara, Kota Kediri serta Nganjuk. Kemudian untuk menjaga kelancaran proses pembongkaran, diterjunkan puluhan personil polisi dari Polres Kediri Kota dan Polsek Pace, Kabupaten Nganjuk.

Prosesi pembongkaran makam Wiji diawali dengan doa bersama yang dimpimpin oleh pemuka agama setempat. Diteruskan dengan mencangkul tanah makam. Masyarakat setempat tidak dapat menyaksikan langsung pembongkaran tersebut. Petugas memasang kain setinggi 2 meter di sekeliling makam. Bahkan, petugas juga memasang plice line (garis polisi) pada radius sekira 5 meter dari makam. Sehingga, yang ada hanya petugas dan keluarga korban.

Kasi Humas Polsek Mojoroto, Kota Kediri Aiptu Suyitno mengungkapkan, pembongkaran makam Wiji bertujuan untuk memastikan penyebab kematian korban. Tim forensik akan membawa sempel tubuh korban, khususnya pada bagian dalam untuk diperiksa di laboratorium. Hasilnya akan dilaporkan ke Polres Nganjuk, sebagai penyidik.

" Tujuannya untuk mengetahui apakah Wiji benar-benar korban tersangka Mujianto. Kemudian, apabila benar Wiji meninggal karena pembunuhan apakah karena racun atau hal lain. Kemungkinannya, sampel yang akan diambil adalah bagian dalam. Kami dari Polsek Mojoroto hanya bertugas mengamankan proses pembongkaran saja," ujar Suyitno.

Terpisah, Agus Purwanto (34), sepupu Wiji mengatakan, pembongkaran makam saudaranya atas permintaan dari Polres Nganjuk. Selaku pihak keluarga, hanya dimintai kesediaan. Pihaknya tidak keberatan sampel tubuh korban dibawa ke Surabaya untuk diteliti. Tetapi dia berpesan supaya jenazah Wiji tetap dimakamkan di TPU setempat.

" Wiji memang korban dari Mujianto. Kami sudah yakin. Apalagi tersangka sendiri sudah mengakui. Kemudian dari pesan SMS juga diketahui komunikasi antara keduanya sebelum Wiji meninggal dunia. Kami dari pihak keluarga sudah menyerahkan masalah ini kepada pihak yang berwajib. Bagi kami yang terpenting tersangka dihukum seberat-beratnya," tutur Agus Purwanto.

Wiji Subekti meninggal dunia pada September lalu. Sebelumnya, pria yang dikenal sebagai tukang pijat itu pergi menemui Mujianto yang mengaku sebagai Andika di Nganjuk. Dia diajak makan dan minum yang sudah dicampur racun tikus. Ketika sekarat, Mujianto meninggalkannya di sebuah mushola di Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk. Mujianto mengambil seluruh uangnya yang berjumlah sekitar Rp 1 juta.

Suryanto (50) adik kandung Wiji baru mengetahui kabar itu setelah dihubungi oleh seorang takmir masjid melalui Hand phone (HP) miliknya. Selanjutnya Wiji dijemput. Setibanya di rumah, bapak tiga anak itu mengeluh sakit kepala, perut dan muntah-muntah. Keluarga meyakini Wiji keracunan. Kemudian diminumi air kelapa muda. Tetapi karena kondisinya semakin melemah, akhirnya dia meninggal dunia.

Keluarga tidak menaruh curiga apapun atas kematian Wiji. Mereka menganggap Wiji meninggal dunia karena masuk angin. Baru setelah mencuat kabar kasus pembunuhan berantai yang dilakukan Mujianto, pemuda asal Desa Jatikapur, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri, mereka melapor ke kantor polisi. Petugas langsung menyelidikinya. Akhirnya ditetapkan bahwa Wiji adalah korban kelima Mujianto.

Empat korban Mujianto lainnya masing-masing, Ahyani (46), seorang PNS di BLK Pemprov Jatim, warga Kampung Tokelan, Kecamatan Panji, Kabupaten Situbondo, Romadhon (55) warga Desa/Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi, Sudarno (42), warga Desa Sukowiyono, Kecamatan Padas, Kabupaten Ngawi. Kapolres Nganjuk AKBP Anggoro Sukartono memastikan, Mujianto beraksi di 23 Tempat Kejadian Perkara (TKP). Pihaknya sudah melimpahkan dua Berkas Acara Pemeriksaan (BAP) ke Kejaksaan Negeri setempat dan masih terus mengembangkan kasus itu. (nDol)