I  
This is an example of a HTML caption with a link.
Home | Pemerintahan

* Cukupi Listrik dan Kompor Gas 19 KK Sampah TPA Klotok-Kediri Diolah Jadi Gas Metan

Jumat, 01 Juni 2012 - 18:32:54 WIB
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Pemerintahan - Dibaca: 831 kali

Kediri,m8nTera=Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri berhasil membuat terobosan baru dengan 'menyulap' bau busuk sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Klotok menjadi Bahan Bakar Gas (BBG) jenis metan. Gas yang biasanya terdapat di semua lapisan batubarai tersebut menghasilkan energi listrik dan panas, yang kini dimanfaatkan oleh sebanyak 19 Kepala Keluarga (KK) di sekitarnya.

" Sekarang ini baru tahap uji coba. Tetapi, ke depan akan kita optimalkan. Sehingga menghasilkan gas metan 10 kali lipat yang nantinya bisa dimanfaatkan oleh warga masyarakat secara cuma-cuma," ujar Kepala Dinas Tata Ruang Kebersihan dan Pertamanan (DTRKP) Kota Kediri Nur Muhyar ditemui di TPA Klotok, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Kamis (31/05/2012)

Sebanyak 19 KK pemanfaat gas metan tersebut berasal dari, sembilan KK dari RT 14/ RW 03 Lingkungan Jarakan, Kelurahan Pojok, delapan KK dari RT 13/RW 03 dan dua user tetap yaitu, sebuah warung di TPA. Seperti yang dituturkan oleh Tumijan, salah satu pengguna gas metan asal RT 13. Ia mengaku, sangat terbantu dengan adanya gas metan tersebut.

" Sejak ada gas metan, saya tidak pernah beli gas elpiji ke toko. Ketika masih menggunakan elpiji, sebagai bahan bakar kompor, sebulan habis dua tabung ukuran 13 kilogram. Tetapi sekarang, keperluan masak, merebus air dan kebutuhan lainnya sudah tercupuki gas metan," aku Tumijan, mengaku sangat bersyukur.

Pengambilan gas metan dari gunungan sampah di TPA Klotok sebenarnya sangat mudah. Instalansi berupa pipa-pipa berukuran kecil dan sedang juga amat sederhana. Prosesnya diawali dari pengambilan gas metan dari sumber (sampah) dengan cara menancapkan pipa kecil ke sampah pada kedalaman sekitar 3 meter. Lalu, gas yang terambil mengalir ke sistem pemisah gas yang berupa pipa terminal utama. 

Pipa pemisah terdiri dari tiga buah, menjulang ke atas dengan ketinggian sekitar 5 meter. Disini, akan dipisahkan antara gas metan dengan air. Gas metan hasil pengambilan dialirkan ke pengguna. Sedangkan air masuk ke tempat penampungan kecil. Gas yang sudah terpisahkan dari air masuk ke terminal utama terdiri dari, flaring gas, kompor BBM metan, Genset BBG metan dan blower. Gas tersebut sudah dapat dimanfaatkan untuk keperluan, utamanya energi listrik dan panas.

Mantan Kabag Humas Pemkot Kediri itu menjelaskan, pada tahap uji coba pemanfaatan sampah menjadi gas metan sudah mengeluarkan dana sekitar 100 juta. Anggaran tersebut untuk keperluan pengadaan pipa-pipa instalansi. Tetapi, apabila dikalkulasi dengan gas yang dihasilkan, besarnya dana itu sudah pulih. Namun, pihaknya tidak mengkomersilkan gas metan itu, tetapi memberikan secara gratis untuk masyarakat sekitar.

" Program ini masih baru. Terus terang kami bekerjasama dengan pihak ketiga. Ide awalnya muncul dari study banding dengan Pemerintah Kabupaten Malang. Disana, mereka sudah lebih dahulu menerapkannya. Hanya saja, di Kepanjen, Malang sana, gas metan yang dihasilkan kemudian dimasukkan ke dalam tabung-tabung gas dan diberitakan kepada masyarakat. Tetapi, disini, langsung disalurkan melewati pipa instalansi langsung," terangnya. 

Masih kata pria yang juga pernah menjadi Camat Mojoroto itu, terobosan baru memanfaatkan sambah menjadi gas metan tersebut, menjadi salah satu upaya untuk mengatasi persoalan gunungan sampah di TPA Klotok. Mengingat, keberadaan TPA yang sudah overload diprotes oleh masyarakat sekitar, dan didesak supaya ditutup total. Pihaknya, secara perlahan, tetapi pasti, akan menyelesaikan persoalan persampahan tersebut dengan arif dan bijak. 

Apalagi, amanat pasal 44 ayat (2) Undang-Undang No. 18 tahun 2008 tentang persampahan jelas menegaskan bahwa, pemerintah daerah harus menutup TPA yang masih menggunakan sistem pembuangan terbuka atau open dumping. Sebab, sangat berbahaya bagi lingkungan baik udara, air dan tanah. Gas metan (CH4) yang dikandung oleh sampah di TPA menguap ke udara. Gas ini mempunyai kemampuan menyerap radiasi matahari 21 kali lipat lebih besar dibandingkan gas gas berbahaya lainnya. UU telah berlaku sejak ditandatangani oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, pada 7 Mei 2008 lalu. Sementara pelanggaran terhadap peratuan ini terancam dikenai sanksi. (nDol)




Komentar : 0

Isi Komentar :

Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)