I  
This is an example of a HTML caption with a link.
Home | Hukum & Kriminal

ujuh Kali Gagahi Pacar, Khomarudin Masuk Bui

Senin, 04 Juni 2012 - 16:49:29 WIB
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Hukum & Kriminal - Dibaca: 1565 kali

Kediri,m8nTera=Khomarudin (25) sungguh keterlaluan. Pemuda asal Desa Krenceng, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri itu tega mengoyak keperawanan pacarnya sendiri yang masih dibawah umur. Tetapi setelah puas, malah meninggalkanya. Akibatnya, kini Khomarudin harus mendekam di balik jeruji penjara.

Petugas Satuan Reskrim Polres Kediri menangkap Khomarudin dari rumahnya. Dia mengakui, perbuatannya, telah menggauli pacarnya sendiri sebut saja dengan nama Bunga (16). Bahkan, lebih dari satu kali. Menurutnya, gadis ingusan asal Desa Blaru, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri tersebut telah digagahi sebanyak tujuh kali.

" Tersangka kita jerat dengan Undang-undang No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Tersangka terancam hukuman penjara selama 15 tahun," ujar Kasubbag Humas Polres Kediri, AKP Buki Suharsono, menjelaskan, Jumat (01/06/2012). Bukin menambahkan, dalam pemeriksaan, tersangka mengaku, aksi amoral tersebut ia lakukan tanpa paksaan. Mereka memang saling menyukai. 

" Keduanya berpacaran. Tetapi kebablasan. Tersangka mengaku, atas dasar suka sama suka. Bahkan, mereka berencana dinikahkan. Tetapi, belakangan, ia berniat meninggalkan korban. Hingga, orang tua korban melaporkan ke kantor polisi," terang Bukin. 

Tersangka mengenal korban mulai pertengahan tahun 2011 lalu. Kemudian mereka berpacaran. Lantas, pada akhir Desember 2011, tersangka mengajak korban ke rumah temannya. Dengan alasan kemalaman, tersangka mengajak korban menginap di rumahnya. Akhirnya, di kamar tersangka, korban digagahi. 

Setelah itu, tersangka mengaku, sering ketagihan. Ia tidak segan-segan memanggil korban untuk datang ke rumah, demi menyalurkan hasrat seksualnya. Sampai akhirnya terulang sebanyak tujuh kali. Persetubuhan tanpa landasan pernikahan itu baru terbongkar setelah orang tua korban melihat perubahan sikap anaknya.

Korban lebih sering murung dan menyendiri. Suatu ketika, orang tuanya bertanya. Tetapi, korban menjawab, tidak ada masalah apapun. Karena sering didesak oleh orang tuanya, akhirnya korban mengaku, sudah digagahi oleh tersangka. Orang tua korban tidak gegabah. Dia berupaya mencari tahu tersangka dan meminta pertanggungan jawab. 

Awalnya, tersangka bersedia bertanggung jawab. Bahkan, tersangka juga tidak keberatan jika, dinikahkan. Tetapi akhir-akhir ini, tersangka berupaya menghindar. Orang tua korban pun cemas. Sebagai orang tua, mampu menangkap sinyal negatif tersebut. Apalagi, tersangka semakin sulit dihubungi. Akhirnya, orang tua korban melaporkannya ke kantor polisi. (nDol)