I  
This is an example of a HTML caption with a link.
Home | Hukum & Kriminal

* Korupsi Jembatan Brawijaya Kediri Ketua Panitia Lelang Merasa Dijadikan Tumbal

Minggu, 10 Februari 2013 - 15:27:20 WIB
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Hukum & Kriminal - Dibaca: 1519 kali

Kediri,m8nTera= Polres Kediri Kota akhirnya menjebloskan satu dari dua tersangka dugaan kasus korupsi mega proyek pembangunan Jembatan Brawijaya Kota Kediri Wijanto ke penjara. Ketua Panitia Lelang proyek bernilai Rp 71 miliar tersebut dikhawatirkan mengulangi perbuatan korupsi yang lain.
 
“ Penyidik Polres Kediri Kota memutuskan untuk menahan tersangka kasus korupsi Jembatan Brawijaya Kota Kediri atas nama Wijanto, yang menjabat sebagai Ketua Panitia Lelang ke ruang tahanan Mapolres Kediri Kota,” ujar Kapolres Kediri Kota AKBP Ratno Kuncoro, Sabtu (09/02/2013)
 
Beberapa pertimbangan penyidik dalam menahan Wijanto antara lain, kemungkinan tersangka akan menghilangkan barang bukti, potensi melarikan diri, mengganggu atau mempengaruhi saksi –saksi yang akan diperiksa serta berhubungan dengan kemungkinan tersangka melakukan tindak pidana korupsi lain.
 
Budi Nugoro, SH selaku kuasa hukum Wijanto menuding, kepolisian sudah berbuat tidak adil. Ada perbedaan perlakuan terhadap kliennya. Sebab, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (Kadis PU) Kasenan, yang juga sebagai tersangka lain justru dibiarkan “bebas”. Menurut Budi, hal tersebut bertentangan dengan UUD 1945 pasal 29 yang mengamanatkan bahwa, semua warga Negara di mata hukum adalah sama.
 
Melihat iktikad ketidakadilan tersebut, Budi menyimpulkan, kliennya sengaja dikorbankan dan dijadikan tumbal oleh pihak-pihak tertentu. Untuk itu, dirinya meminta supaya penyidik Unit Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Polres Kediri Kota bekerja objektif dan tidak mengkambing hitamkan kliennya.
 
“ Ada perbedaan perlakuan, Kasenan tidak ditahan, kok klien saya ditahan. Saya mengharap kepada penyidik agar objektif. Jangan menjadikan klien saya tumbal. Penyidik harus memeriksa semua pihak-pihak yang terlibat baik dari kalangan eksekutif maupun legislative. Selain itu, kami juga mengajukan permohonan status tahanan luar atau pengalihan dari tahanan rutan,” pinta Budi.
 
Ditanya mengenai indikasi lelang fiktif yang dijadikan dasar penetapan status tersangka Wijanto, Budi menjawab, pihaknya mempunya bukti tentang proses tender yang sesuai prosedur. Diantara, bukti penayangan lelang pada media serta bukti transfer pembayaran. Kemudian, bukti adanya tiga rekanan pembanding yang ikut dalam proses lelang.
 
Ketidaksingkronan pernyataan antara kliennya, sebagai Ketua Panitia Lelang dengan sekretaris dan tiga anggota, kata Budi sangat tidak berdasar. Sebab, semua panitia lelang atau yang tergabung dalam tim lelang proyek pembangunan Jembatan Brawijaya Kota Kediri sudah membubuhkan tanda tangan dan menyetujui.
 
“ Sebetulnya, panitia yang ada telah tanda tangan semua. Mereka menandatangi dan menyetujui, artinya membenarkan proses lelang tersebut. Kalau tidak ada proses lelang, kenapa mereka menandatangani. Mereka adalah satu kesatuan tim,” jelas Budi.
 
Kapolres AKBP Ratno Kuncoro ketika ditanya adanya perbedaan perlakuan antara Kasenan dengan Wijanto, pihaknya menjawab, masih ada evaluasi hasil pengumpulan alat bukti yang dilakukan oleh penyidik. Sementara terkait permohoonan penangguhan penahanan, pihaknya mengatakan, sampai saat ini masih membutuhkan keterangan dari tersangka Wijanto.
 
“ Kasenan belum ditahan karena masih ada evaluasi hasil pengumpulan alat bukti yang dilakukan penyidik. Kemudian untuk kepentingan proses penyidikan, penyidik masih membutuhkan yang bersangkutan (Wijanto, red) untuk ditahan,” katanya. (nDol)