I  
This is an example of a HTML caption with a link.
Home | Hukum & Kriminal

* Korupsi Jembatan Brawijaya Kediri Polisi Gagal Konfrontir Sekkota Terduga Suap Bersandi 'Besi Beto

Kamis, 14 Maret 2013 - 23:14:02 WIB
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Hukum & Kriminal - Dibaca: 1225 kali

Kediri,m8nTera=Penyidik Tipikor Polres Kediri Kota gagal mengkonfrontir Sekretaris Kota (Sekoota) Kediri Agus Wahyudi, satu dari enam terduga penerima aliran dana gratifikasi alias suap mega proyek pembangunan Jembatan Brawijaya Kediri. Agus mangkir dari panggilan kepolisian karena ibunya sedang sakit.

" Sekkota lapor secara lisan kepada saya, bahwa tidak bisa hadir hari ini karena ibunya sakit. Karena faktor kemanusiaan, maka kita jadwalkan besok," ujar Kapolres Kediri Kota AKBP Ratno Kuncoro kepada sejumlah wartawan di Mapolres Kediri Kota, Rabu (13/03/2013) petang

Lima terduka lain menjalani pemeriksaan seauai jadwal panggilan hari ini. Mereka, Asisten Walikota Kediri bidang Pemerintahan Budi Siswantoro, Kepala Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) Rahmad Hari Basuki, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kasenan, Wawan, pejabat Pemkot Kediri dan Fajar Purnama, pemilik rekening yang diduga sebagai perantara gratifikasi atau suap yang sebelum diciduk dari rumahnya Perumahan Rejomulyo Estate Kediri.

" Kami sudah menuntaskan beberapa pekerjaan. Diantara mereka yang ada yang memberikan keterangan, aliran dana sebagai hutang, akan kita upayakan kembali sesuai alat bukti," terang Kapolres

Masih kata Kapolres, setiap orang mempunya hak masing-masing dalam berpendapat dan memberikan keterangan. Tetapi polisi memiliki bukti dan keterangannya akan dicocokan dengan alat bukti, untuk mengetahui berbohong dan tidaknya seseorang

Untuk membuktikan indikasi suap pada kasus dugaan korupsi Jembatan Brawijaya, kata Kapolres memang bukan perkara mudah. Tetapi kepolisian dituntut untuk segera menyelesaikan. Penyidik sudah menyita dokumen berisi transaksi keuangan yang diduga gelap dari PT Surya Graha Semesta (SGS) ke rekening atanama Fajar Purnama, diduga perantara ke kalangan oknum pejabat.

Penyidik langsung melakukan koordinasi dengan sejumlah swasta dan Bank Indonesia (BI). Diantara meminta Fajar Purnama memprint out rekening koran ke Bank BCA. Tetapi upaya itu gagal, karena masih ada prosedur yang belum dipenuhi

Diakui Kapolres, Fajar Purnama adalah seseorang yang memiliki latar belakang kedekatan dengan pejabat Kota Kediri, bahkan pimpinan daerah. Oleh karena itu, tidak heran jika rekeningnya diduga digunakan sebagai penerima transfer uang dari PT SGS uang besarannya hingga miliaran rupiah dengan sandi "Besi Beton". Dari rekening itulah, diduga uang digelontorkan ke sejumlah pejabat terduga menerima.

Masih kata Kapolres, sampai saat ini Fajar Purnama masih diperiksa sebagai saksi. Tetapi tidak menutup kemungkinan, status hukumnya akan berubah. Perubahan status hukum yang bersangkutan tergantung dari hasil pemeriksaan yang dilakukan penyidik.

Sebagaimana diberitakan, penyidik Tipikor menemukan indikasi suap pada pembangunan Jembatan Brawijaya Kediri. Aliran dana gelap itu diduga mengucur ke 6-7 pejabat. Bahkan, ada diantaranya yang lari ke media massa dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). (nDol)