I  
This is an example of a HTML caption with a link.
Home | Hukum & Kriminal

Usut Korupsi Jembatan Brawijaya, Kapolres Dituding Kongkalikong

Rabu, 20 Maret 2013 - 07:49:40 WIB
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Hukum & Kriminal - Dibaca: 1266 kali

Kediri,m8nTera=Kapolres Kediri Kota AKBP Ratno Kuncoro mengakui, pihaknya sudah menerima dua lembar surat kaleng alias surat gelap. Satu surat berisi tudingan dirinya kongkalikong dengan oknum pejabat di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri, satu surat lainnya berisi track record buruk penyidiknya.
 
Surat kaleng itu berkaitan dengan proses pengusutan kasus dugaan korupsi mega proyek pembangunan Jembatan Brawijaya Kota Kediri. Namun, Kapolres tidak tertarik untuk menelusuri asal mula atau si pengirim surat gelap tersebut.
 
" Di dalam proses pengusutan kasus Jembatan Brawijaya, ada pihak yang mendukung dengan memberikan informasi kepada kami. Tetapi ada pula yang  memberikan kritik," ujar Kapolres AKBP Ratno Kuncoro, Selasa (19/03/2013)
 
Meskipun menyangsikan isi dari surat tersebut, tetapi Kapolres sudah mengklafisikai pihak yang disebut yaitu penyidiknya. Dia juga menjamin bahwa, isi surat itu tidak lebih dari sekedar kebohongan. Di korps Polri, tegas Kapolres, sudah ada bagian yang menangani persoalan itu, dan dia yakin fungsinya tetap berjalan.
 
Mengenai proses pengusutan kasus dugaan korupsi Jembatan Brawijaya, terang Kapolres lulusan FBI itu, sampai saat ini masih terus berjalan. Polisi sudah menetapkan tiga orang tersangka dan tengah menunggu surat keterangan dari dokter mengenai kondisi kesehatan Walikota Kediri Samsul Ashar, selaku terperiksa.
 
Walikota Samsul Ashar saat ini sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit Internasional di Surabaya. Kabar menyebutkan, jika orang nomor satu di Kota Kediri itu jatuh sakit. Sehingga, kondisinya tidak memungkinkan untuk dilakukan pemeriksaan
 
Seperti diberikan sebelumnya tiga tersangka kasus dugaan korupsi Jembatan Brawijaya antara lain, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kasenan, Ketua Panitia Lelang Wijanto dan Fajar Purna Wijaya, selaku pemilik rekening bank BCA atas nama Fajar Purnama yang diduga sebagai perantara aliran dana dari PT Surya Graha Semesta (SGS) ke sejumlah oknum pejabat.
 
Penyidik Tipikor Polres Kediri Kota juga sudah memintai keterangan dari direksi PT. Fajar Parahyangan, selaku rekanan pemenang tender. Hasil pemeriksaan diketahui bahwa, sudah terjadi praktek pinjam 'bendera'  untuk menguasi tiga proyek besar di Kota Kediri.
 
" Saksi dari PT Fajar Parahyangan kita periksa hari ini. Mereka mengakui, adanya pinjam bendera untuk mengejakan proyek. PT Fajar Parahyangan yang memiliki kualifikasi untuk ikut tender lelang dipinjam dengan kompensasi 0,9 persen dari nilai kontrak proyek," kata Kapolres.
 
Di tempat terpisah, rumor tidak sedap juga menerpa Wakil Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar. Dia dikabarkan ada dibalik proses pengusutan Jembatan Brawijaya oleh kepolisian. Secara tegas Abdullah menepis kabar tidak benar tersebut.
 
“ Kalau mengenai surat kaleng, saya tidak tahu. Tetapi kalau mendengar, iya. Saya biasa saja, kaget ya kaget, enggak ya enggak, sangat lucu sekali. Dan saya mengkondisikan, hak saya apa. Saya cukup prihatin di Pemkot Kediri ini, banyak pejabat yang diperiksa, saya prihatin. Kalau kemudian saya menari diatas penderitaan, apalagi sampai Walikota  diperiksa, beliau senior saya. Proses hukum, presiden, wakil presiden, petinggi di Indonesia sudah harus hormat kepada hukum, supremasi tetap berjalan,” tepis Abdullah. (nDol)