I  
This is an example of a HTML caption with a link.
Home | Hukum & Kriminal

* Sosok Modin Yang Ramah Keluarga Yakin Sapari Tak Terlibat Teroris

Jumat, 26 Juli 2013 - 11:09:58 WIB
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Hukum & Kriminal - Dibaca: 1325 kali

Tulungagung,m8nTera=Sapari (49) terduga teroris yang selamat dalam penyergapan Densus 88 Mabes Polri di Jalan Raya Pahlawan, Tulungagung, Senin (22/7/2013) kemarin bernasib sama dengan Mugi Hartanto (38) yaitu sekedar mengantarkan Rizal dan Dayat ke Tulungagung untuk mencari bus

Kedua terduga teroris yang tewas tertembak itu hendak pulang ke Kulon Progo, Jawa Tengah. Daripada membayar ojek, Sapari memilih mengantarkan mereka ke halte bus Jalan Pahlawan, lokasi penyergapan.

" Mas Sapari dimintai tolong Rizal untuk mengantarkan ke Tulungagung. Daripada naik ojek bayar, ya sudah oleh mas Sapari diantarkan. Lawong Rizal disini juga sebagai mubalik dan sudah dikenal," ungkap Suparti, adik Sapari ditemui di dekat TK Aisyah, tempat tinggal Rizal, Selasa (23/7/2013) pagi

Ketika hendak berangkat, Mugi Hartanto melintas. Dia baru saja mengantarkan mukena dan buku Husna (5,5) putrinya yang tertinggal dirumah. Mereka berdua kemudian berangkat naik dua sepeda motor berboncengan dua ke Tulungagung.

Kabar buruk itu diterima keluarga, pada pukul 10.00 WIB. Sapari dan Mugi serta Dayat dan Rizal ditembak mati polisi. Seketika itu, keluarga menghubungi handphone (HP) Sapari, tetapi tidak ada jawaban.

" Keluarga sudah bingung sekali. Bingung mencari kebenaran kabar itu. Kemudian datang anggota kepolisian menjelaskan perihal penangkapan itu. Kami semakin shock, dan ingin segera ke Tulungagung untuk memastikan. Tetapi katanya langsung dibawa ke Kediri," kenang Suparti.

Suparti mengaku, hingga pagi ini belum menerima kabar dari kakaknya. Dirinya berharap Sapari selamat. Sebab, dari kabar yang diterima sebelumnya Sapari dinyatakan masih hidup, meskipun ikut tertembak polisi

Kata Suparti, kakaknya hanya mengenal Rizal, sedangkan Dayat tidak. Sapari mengenal Rizal sebagai seorang da'i di lingkungannya. Rizal adalah mubaleq yang sengaja datang untuk mengajar agama.

Di lingkungan tersebut sudah biasa menerima da'i dari daerah lain. Sehingga Rizal diijinkan tinggal di sebuah ruangan bergandengan dengan TK Aisyah Panjor.

Sebagai tokoh masyarakat, imbuh Suparti, wajar jika kakaknya berlaku baik terhadap Rizal. Namun pihak keluarga yakin jika Supari tidak terlibat dalam jaringan teroris. Karena hubungan Sapari dan Rizal hanya sebagai seorang tokoh dengan tamu.

Sapari sehari-hari bekerja sebagai tenaga teknis di Kantor Desa Panjor. Aktivitasnya yaitu menikahkan pasangan yang hendak berumat tangga dan kegiatan keagamaan lain, atau istilah modin.

Sapari beristrikan Sriin (42). Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai dua orang anak yaitu, Soni (25) dan Anwar (23) kelas 1 SMA. Tempat tinggal mereka terpaut jarak sekitar 500 meter dari TK Aisyah.

Warga mengenal Sapari sebagai sosok pemuka agama yang baik. Warga yakin, Sapari tidak terlibat dalam jaringan teroris, apalagi melakukan aksi teror. Sapari hanya sekedar mengantarkan karena rasa sosial kemanusiaan kepada sesama masyarakat. (nng)