I  
This is an example of a HTML caption with a link.
Home | Hukum & Kriminal

perburuan teroris oleh Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Mabes

Kamis, 23 Januari 2014 - 08:37:50 WIB
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Hukum & Kriminal - Dibaca: 3018 kali

Kediri,m8nTera=Kabar perburuan teroris oleh Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Mabes Polri di Kediri, Jawa Timur ternyata bukan hal yang istimewa bagi masyarakat di Desa Ngadiluwih, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri. Pasalnya, salah seorang warga berinisial AS (46) memang sudah lama dicurigai pasukan anti teror itu.

Lalu siapa sosok AS tersebut? Berdasarkan hasil investigasi, AS dikenal tetangganya, sebagai santri, sekaligus 'tangan kanan' (orang kepercayaan) dari Ustadz Abu Bakar Ba'asyir. Bahkan, AS pernah mendatangkan tokoh Jemaah Islamiyah (JI) yang kini mendekam karena terlibat dalam kasus teror bom itu untuk berceramah.

Menurut keterangan Ketua RT 2 / RW 3, Rozikin, selama tinggal di wilayahnya, AS tidak pernah bersedia mengurus administrasi baik Kartu Tanda Penduduk (KTP) maupun Kartu Keluarga (KK). Kemudian, pada tahun 2006 lalu, ia bersama anggota keluarganya pergi meninggalkan rumah tanpa alasan

" Masuknya tahun berapa saya tidak tahu persis. Kalau tidak salah sudah lebih 10 tahun. Awalnya hanya kos di rumah warga. Pindah dari satu rumah ke rumah lainnya. Kemudian ia menjadi pengurus organisasi masyarakat (ormas) dan mendirikan rumah di tepi rel kereta api," tutur Rozikin, Rabu (22/1/2014)

Menurut penjelasan Rozikin, AS merupakan pendatang dari Desa Gondang, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri. Sementara istrinya SU (43) dari Bawean, Gresik. Saat tinggal di Desa Ngadiluwih, mereka bersama tiga orang anaknya antara lain, ZU (18), HU (15), AB (13).

" Dalam bermasyarakat, orangnya baik. Sering ikut kegiatan sosial di lingkungan. Aktivitas yang kerap dilakukan ya di organisasi, dan berceramah agama di masjid," imbuh Rozikin memberberkan keseharian AS

Pada tahun 2002, AS mendatangkan Ustad Abu Bakar Baasyir untuk berceramah di Desa Ngadiluwih. Kegiatan itu berlangsung di Masjid Al-Iklas, pada malam hari. Banyak jamaah yang hadir. Sementara pihak kepolisian melakukan penjagaan dengan ekstra ketat.

" Dengar-dengar, waktu itu Abu Bakar juga menginap di rumahnya. Bahkan, pada beberapa kesempatan warga juga melihat Abu Bakar disana. Biasanya kalau datang tengah malam menumpang mobil ber plat nomor AD. Banyak yang tidak tahu karena datang dari gang sebelah selatan, dan pulang dari gang sebelah utara, atau sebaliknya," imbuh Rozikin

Pada tahun 2006, AS tiba-tiba meninggalkan rumahnya. Dia membawa istri dan ketiga anaknya pergi tanpa pamit siapaun. Kepergian AS terkesan sangat misterius. Oleh sebab itu, masyarakat setempat mengait-kaitkan dengan kedatangan Abu Bakar Baasyir di Ngadiluwih.

" Tidak ada yang tahu pasti kemana perginya. Katanya sih ke Madura. Tetapi sesekali masih terlihat disini. Biasanya, datang untuk menengok rumahnya, atau mampir seusai menjenguk anaknya yang mondok di wilayah Kabupaten Tulungagung. Melihat-lihat sebentar, kemudian pergi lagi," masih kata Rozikin.

Pada tahun 2012, rumah AS yang kosong dihuni oleh Muslih Riza, pria yang berasal dari Dusun Budimulyo, Desa Branggahan, Kecamatan Ngadiluwih. Dia tinggal bersama keluarganya, terdiri dari istri dan seorang anak. 

Sementara saat ditemui di rumahnya, Riza mengaku, hanya sebagai teman dalam organisasi. Ia sendiri tidak mengetahui secara pasti keberadaan kawannya se-organisasi itu. Begitu juga dengan isu tentang pencarian yang dilakukan oleh Densus 88.

" Sebenarnya saya hanya dimita menempati saja, karena rumah ini kosong. Tetapi saya merasa tidak enak. Sehingga saya beri uang sewa. Pak AS seorang wiraswasta seperti saya yang berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lain untuk mencari konsumen," kata pemilik usaha pupuk cair itu.

Diakui Riza, beberapa kali ia pernah bertemu dengan AS. Namun, kata Riza, pertemuan itu tidak lebih dari sekedar urusan bangunan rumah yang hendak dijual. Bahkan, ujar Riza, AS telah memberikan kepercayaan kepadanya untuk menjualkan rumah berpagar tinggi keliling itu kepada orang lain.

" Orangnya itu baik lo mas. Saat masih disini, organisasi sangat dinamis. Karena pa AS aktif dalam setiap kegiatan-kegiatan. Tetapi setelah dia pergi, organisasi tidak seperti dulu," kata Riza

Riza mengaku, AS memang pernah nyantri di pondok pesantren (Ponpes) Ngruki, pimpinan Ustadz Abu Bakar Baasyir. Tetapi, ia tidak tahu persis kedekatan keduanya. Baginya, AS adalah teman satu organisasi yang dikenal memiliki tabiat baik. 

Seperti diberitakan sebelumnya, Tim Densus 88 dikabarkan melakukan pencarian terduga teroris di wilayah Kediri. Pasukan khusus anti teror mendatangi beberapa tempat, salah satunya di wilayah Desa Ngadiluwih (sebelumnya tertulis Desa Pagak). 

Menurut informasi, Densus 88 tidak melakukan upaya penyergapan, melainkan hanya mengawasi sebuah rumah yang dikabarkan milik AS, kemudian pergi. Sementara itu, pihak kepolisian setempat langsung melakukan razia di sejumlah titik perbatasan wilayah Kota Kediri untuk mengantisipasi teroris.(nng)