I  
This is an example of a HTML caption with a link.
Home | Hukum & Kriminal

Dana Gratifikasi Biaya Nikah Mengalir ke Kemenag Kediri

Senin, 03 Februari 2014 - 20:23:18 WIB
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Hukum & Kriminal - Dibaca: 1204 kali

Kediri,m8nTera=Kepala Kejaksaan Negeri Kediri, Amiek Mulandari mengatakan, dana pungutan liar (pungli) atau gratifikasi biaya pencatat nikah di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kota Kediri, Jawa Timur juga mengalir ke Kantor Kementerian Agama (Kemenag) setempat. Besar aliran dana haram itu diperkirakan mencapai belasan juta rupiah dalam satu tahun.

" Berdasarkan 15 orang saksi yang kita mintai keterangan, mereka menyebut jika dana gratifikasi itu tidak hanya mengalir ke Kepala KUA Kota Kediri Romli (terdakwa), melainkan juga mengalir ke atas yaitu ke Kemenag. Aliran dana itu juga tertuang dalam pembukuan di KUA Kota Kediri yang berhasil kita sita dari penggeledahan," ujar Amiek Mulandari dalam jumpa pers di Kantor Kejari Kediri Jalan Jaksa Agung Suprapto Kota Kediri, Kamis (23/1/2014) siang

Masih kata Amiek, aliran dana ke Kemenag sebesar Rp 20.000  per peristiwa pernikahan. Sementara data yang diperoleh Kejari, di wilayah Kecamatan Kota Kediri telah terjadi 699 peristiwa pernikahan dalam kurun waktu satu tahun 2012

Dana gratifikasi itu merupakan selisih dari biaya pernikahan yang telah ditetapkan pemerintah sebesar Rp 30 ribu per permohon dengan pungutan yang dipatok KUA Kota Kediri sebesar Rp 225.000 dari luar kantor dan Rp 175.000 di dalam kantor

" Sebagian besar saksi yang kita periksa mengatakan, biaya pencatat nikah di depan loket KUA memang hanya Rp 30 ribu, sesuai dengan peraturan yang berlaku, tetapi sebelum pernikahan dilaksanakan sudah menjadi Rp 225.000 dan 175.000 per pasangan menikah. Selisih dana ini mengalir ke terdakwa dan ke kemenang dengan alasan untuk biaya operasional, KUA teladan, kunjungan dan transpor," beber Amiek.

Amiek enggan membeberkan secara detail aliran dana gratifikasi ke kemenag itu. Pihaknya beralasan masih dalam pendalaman, sembari menunggu fakta-fakta dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Surabaya

Humas Kemenag Kota Kediri Budi enggan untuk menanggapi pernyataan Kajari Kediri ihwal aliran dana haram ke Kemenag Kota Kediri. Dikonfirmasi melalui telepon selulernya, Budi tidak bersedia menjawab.

Sementara itu, persidangan kasus dugaan gratifikasi pernikahan dengan terdakwa Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kediri Kota, Romli kini memasuk agenda pembuktian. Kejaksaan mendatangkan saksi ahli dari universitas Airlangga atas nama Harianto

Romli dituduh menggelembungkan biaya nikah dengan memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat soal tarif resmi pencatatan nikah. Dia memungut biaya sebesar Rp 225.000 untuk pernikahan di luar kantor dan Rp 175.000 di dalam kantor. Padahal, tarif sebenarnya hanya Rp 30.000. 

Dari nominal itu, Romli mendapatkan jatah Rp 50.000 sebagai petugas pencatat nikah plus Rp 10.000 sebagai insentif kepala KUA. Romli diduga menerima gratifikasi senilai Rp 36 juta atas biaya pencatatan nikah di luar ketentuan yang ada dalam kurun waktu satu tahun pada 2012. (nng)