I  
This is an example of a HTML caption with a link.
Home | Hukum & Kriminal

Pemilik Apotek Dianita Kediri Bantah Korupsi Obat

Jumat, 28 Februari 2014 - 13:51:09 WIB
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Hukum & Kriminal - Dibaca: 2731 kali

Kediri,m9nTera=Dian Nurwahyuni (59) membantah sudah melakukan tindakan korupsi pengadaan obat-obatan dan alat kesehatan habis pakai Rumah Sakit (RS) Kusta Kediri, Jawa Timur tahun 2006.

Pemilik Apotek Dianita Jalan Dr. Sutomo RT 02 RW 01 Desa Sukorejo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri itu mengaku menjadi korban. Dan kini ia tengah menempuh jalur Peninjauan Kembali (PK) atas keputusan Mahkamah Agung (MA) RI 2010 yang mengganjarnya hukuman 1 (satu) tahun
penjara.

" Saya melarikan diri itu dalam rangka mencari kebenaran dan keadilan. Tidak disebutkan di putusan MA itu tidak ada serupiah pun untuk mengembalikan keuangan Negara. Berarti saya tidak korupsi. Kalau merugikan uang Negara, mestinya saya mengembalikan," kata Dian Nurwahyuni di Kejaksaan Negeri Kediri, Kamis (27/2/2014) pagi

Dian Nurwahyuni dibekuk Tim Kejaksaan Negeri Kediri bersama Kejaksaan Agung RI dan Tim Interlijen Kejaksaan Sleman DIY di tempat persembunyiannya di daerah Sleman. Dian sempat menjadi buronan selama tiga tahun. Bahkan, yang bersangkutan dimasukkan dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) sejak 10 Januari 2012 lalu

Menurut Dian, ia hanya sebagai suplayer swasta RS Kusta Kediri.
Sehingga tidak memiliki kemampuan untuk membobol bank. Dia merasa
hanya sebagai korban dari praktek korupsi yang dilakukan dua
narapidana lainnya yaitu, dr Ermanadji MM dan Drs Jembor Sugeng
Waluyo. Selain itu, katanya, tuduhan serta nilai uang selisih yang
disebutkan kejaksaan tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan

" Saya hanya sebagai suplayer swasta. Saya tidak bisa membobol bank.
Kemudian di TKP hanya Rp 600 ribu, bukan seperti yang disebutkan
sampai Rp 35 juta. Kalau memang saya salah, 10 tahun atau 100 tahun
saya siap dipejara. Sekali lagi, saya melarikan diri itu karena saya
mencari keadilan ke Mahamah Agung, saya mencari keadilan melalui PK,"
imbuh Dian

Diakui Dian, dalam kasus dugaan korupsi pengadaan obat dan alat
kesehatan RS Kusta, ia memang bersalah. Tetapi kesalahannya hanya
karena membuat kwitansi atas pembayaran obat-obatan dan alat kesehatan
habis pakai. Itupun, kata Dian, karena ia disuruh oleh pimpinan proyek
(pimpro).

" Saya benar-benar korban. Yang bertenggung jawab itu seharusnya
pengguna anggaran atau pimpinan proyek. Saya akui, saya memang disuruh
membuat kwintasi. Waktu itu, apotik saya tidak ada obat. dan pimpronya
mencarikan obat. Kemudian saya diminta membuat kwintansi. Sungguh saya
tidak tahu.  Satu rupiah pun tidak ada kerugian Negara dan saya tidak
membawa uang Negara.

Terpidana Dian sudah dijatuhi hukuman MA melalui keputusan Nomor :
335/Pidsus/2010 tanggal 12 Agustus 2010. Dian dan dua terpidana lain
divonis 1 tahun penjara. Dian mengaku, pernah menjalani kurungan
selama putusan Pengadilan Negeri (PN) Kediri. Kemudian dia mengajukan
banding hingga persidangan sampai pada tahap kasasi.

Sebelum MA menjatuhkan vonis, Dian memilih kabur. Dia lari ke wilayah
Sleman dan bersembunyi disana. Melalui tim kuasa hukumnya, Dian
mengajukan PK atas keputusan MA. Tetapi sampai saat ini PK yang
diharapkan Dian belum turun. " Sampai sekarang PK yang saya ajukan
belum turun," ucap Dian.

Diberitakan sebelumnya, Dian dieksekusi kejaksaan atas dugaan kasus
korupsi pengadaan obat dan alat kesehatan RS Kusta tahun 2006. Dian
bersama dua narapidana lain ditengarai telah memark up nilai barang Rp
34.121.775 menjadi Rp 78.557.150. Sehingga menimbulkan kerugian Negara
sebesar Rp 35.210.843.

Perbuatan para terdakwa disangka dengan dakwaan primair pasal 2 ayat
(1) jo pasal 18 UU No 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dan
tambah dengan UU No. 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak
Pindana Korupsi jo 55 ayat 1 ke 1 jo pasal 64 ayat (1) KUHP. (nng)