I  
This is an example of a HTML caption with a link.
Home | Hukum & Kriminal

Buang Limbah Tahu ke Sungai, Pemilik Tahu Kediri jadi Tersangka

Senin, 07 April 2014 - 14:53:48 WIB
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Hukum & Kriminal - Dibaca: 1308 kali

Kediri,m9nTera=Setelah melakukan serangkaian proses penyidikan dan juga mengirimkan sample air sungai yang tercemari limbah tahu, penyidik Sat Reskrim Polres Kediri Kota akhirnya menetapkan BS pemilik dua usaha tahu P dan S di Kelurahan Tinalan Kecamatan pesantren sebagai tersangka

Kapolres Kediri Kota AKBP Budhi Herdisusianto mengatakan, dari hasil penyelidikan, dalam menjalankan usaha tahunya, P dan S, BS tidak melengkapi usahanya dengan unit pengolahan limbah (UPL) dan langsung dibuang ke sungai. “Dalam menjalankan usaha tahu miliknya, BS ini tidak melengkapi usahanya dengan UPL dan IPL, dan membuang limbahnya ke sungai,” ungkap Kapolres didampingi Kasubag Humas dan juga Kasat Reskrim Polres Kediri Kota, Senin (7/4/2014) siang.

Untuk menguatkan bukti, kata mantan penyidik KPK ini, dua unit usaha tahu milik BS telah mencemari lingkungan, terutama aliran sungai Kresek,  bahkan pihaknya juga sudah mengirimkan sample dari sungai disekitar lokasi usaha, dan hasilnya sungai tersebut telah tercemari limbah tahu. “Hasil dari pengujian, menyebutkan limbah itu telah mencemari aliran sungai melampaui baku mutu air,” ungkapnya.

Dengan ditetapkan pemilik dua unit usaha tahu P dan S ini sebagai tersangka, Kapolres berharap agar kasus seperti ini menjadi contoh bagi masyarakat yang ingin mendirikan usaha untuk melengkapi IPL dan UPL. “Dengan adanya kasus seperti ini, kami berharap bisa menjadi pelajaran bagi masyarakat, agar dalam mendirikan segala bentuk usaha untuk melengkapi IPL dan UPL agar tidak mencemari lingkungan,” harapnya.

Masih kata Kapolres, akibat perbuatannya dengan sengaja mencemari lingkungan, BS akan dijerat pasal 98 subsider 104 undang-undang RI nomor 32 tahun 2009 tentant perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, dengan ancaman hukuman minimal 3 tahun penjara maksimal 10 tahun penjara dengan denda minimal Rp 3 milyar dan maksimal Rp 10 milyar.

Sementara itu, BS saat diperiksa di unit pidana ekonomi Sat Reskrim Polres Kediri kota mengakui jika sebelumnya usaha tahu miliknya tidak dilengkapi UPL. “UPL masih proses, dan sekarang sudah jadi,” jelasnya.

Sebelumnya, untuk membuang limbah, BS mengaku hanya menyediakan tiga sepitang, dan saat itu oleh pemerintah tidak masalah. “Memang sebelumnya hanya menyediakan tiga unit sepiteng dan itu tidak masalah. Baru tahu sekarang jika hal itu tidak diperbolehkan,” akunya. (arif kurniawan)